![]() |
| Muhammad Noval. @Doc. Istimewa. |
Hal itu disampaikannya setelah mendengar kabar dalam kongres Wanita Indonesia (Kowani) di Gedung Smesco Convention Hall, Jakarta, Kamis, 1 Juni 2017 lalu, timbul wacana pemerintah mengenai pengusulan tokoh wanita Aceh Keumalahayati sebagai salah satu pahlawan nasional.
Noval mengatakan, perjuangan Keumalahayati dalam melawan kolonialisme memang sudah sepatutnya diapresiasi. Mengingat jasanya dalam mengusir Portugis dan Belanda dari Nusantara cukup besar.
"Ia merupakan perempuan yang sangat tegas dan berani dalam menghadapi Belanda," kata Noval, Kamis, 8 Juni 2017.
Mahasiswa pascasarjana Prodi Arkeolog di Universitas Sains Malaysia ini menceritakan, tokoh Malahayati merupakan perempuan Muslimah pertama didunia yang pernah menyandang gelar Laksamana di zaman Pelayaran modern. Hal itu berdasarkan bukti-bukti sejarah yang tertulis yang ada di salah satu kampus Malaysia.
"Sebuah manuskrip yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari kalangan bangsawan Aceh, dari kalangan sultan-sultan Aceh terdahulu. Nama ayahnya ialah Laksamana Mahmud Syah sedangkan kakeknya bernama Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam," jelas Noval.
"Pada saat remaja ia pernah berkesempatan belajar akademik militer laut ke Turki setelah lama belajar di akademi militer Baital Maqdis (Pusat Militer angkatan Laut Aceh) yang mana sebagian besar para instruktur yang mengajar disana berasal dari Turki," jelasnya lagi.
Selain menceritakan sejarah singkat ketokohan Keumalahayati, Noval juga menceritakan kehebatan laksamana wanita ini yang berhasil menjadi orang terpercaya di Kesultanan Aceh Darussalam. Bahkan Cornelis de Houtman tewas ditangan Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599.
"Karir Laksamana Keumalahayati dimulai dengan menjadi pengawal dan protokol di dalam dan luar istana. Kemudian ia dipercayakan oleh raja Kerajaan Aceh Darussalam Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil pada masa pemerintahan 1589 M-1604 M, untuk menjadi Laksamana setelah berhasil menumpas kapal perang Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Cornelis de Houtman yang terkenal kejam," tambah Alumni Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah ini.
Melihat begitu besar sudah peran Keumalahayati untuk nusantara, Noval mengatakan, "sudah sepatutnya pemerintah dibawah Menteri Sosial Khofifah menjadikan Malahayati sebagai salah satu pahlawan disamping minimnya jumlah pahlawan perempuan Nasional," katanya.
Meskipun nama Keumalahayati di dalam negeri tidak sepopuler seperti Cut Nyak Dhien, Cut Mutia maupun RA. Kartini, namun dikatakan Noval namanya tercatat dari beberapa sumber asing yang disejajarkan dengan Simaramis, Permaisuri raja Babilonia, dan Katherina II Kaisar dari Rusia.
"Dia juga merupakan bukti awal penggagas emansipasi wanita yang sudah ada sejak abad ke 17 M," kata Noval.
"Di zaman modern dalam pelayaran ia adalah muslimah pertama di dunia yang menjadi laksamana," katanya lagi.
Sejarah tentang Laksamana perempuan pertama yang pernah dilahirkan di bumi Aceh hanyalah tinggal cerita, namun dengan dijadikan sebagai Pahlawan Nasional setidaknya kita sudah menghargai jasa-jasanya sebagai seorang pahlawan yang berjuang melawan kolonialisme. Perjuangan malahayati sampai sekarang masih meninggalkan bukti-bukti Arkeologi berupa sebuah benteng yang terletak di Teluk Lamreh Krueng Raya.
Benteng Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter ini, dulunya menjadi markas pasukan inong balee dalam upaya melawan belanda dan portugis lengkap dengan sisa-sisa meriam. Benteng itu kini masih bisa dilihat di Aceh namun kondisinya sudah rusak parah dan sangat memprihatinkan. Selain itu kuburannya juga masih bisa dikunjungi di Lamreh, Krueng Raya.
Diusulkannya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional diharapkan Noval dapat menimbulkan kesadaran kepada masyarakat dan juga pemerintah daerah.
"Kurang pedulinya pemerintah kepada situs sejarah juga sangat disesalkan sehingga banyak bukti arkeologis yang menyimpan sejarah terancam punah," kata Noval.
"Semoga dengan dijadikan Malahayati sebagai pahlawan Nasional menimbulkan kesadaran bagi pemerintah daerah untuk menjaga tempat-tempat bersejarah khususnya yang ada di Aceh," katanya lagi.
Laporan: Zaki Ummaya
Editor: Tim Redaksi
