![]() |
| Rizki Rasnawi. @Doc. Istimewa |
Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Malang Rizki Rasnawi menanggapi, bahwa Pancasila yang merupakan ideologi bangsa, saat ini seakan tidak lagi digunakan sebagaimana fungsinya.
"Realitas hari ini, Pancasila seolah seperti jargon, bukan lagi sebagai fungsi untuk mencapai tujuan dari negara," kata Rizki saat dihubungi Cakra Himas FKIP Unsyiah, Kamis, 1 Juni 2017.
Berbicara memperingati Hari Pancasila, Rizki menjelaskan Pancasila bukan sesuatu yang hanya sekedar dibicarakan, tetapi bagaimana ideologi bangsa ini diwujudkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
"Pancasila membawa cita-cita besar, yaitu menjadi Indonesia yang mempunyai kepribadian dan karakter. Pancasila juga merupakan representatif masyarakat Indonesia yang majemuk," jelas Rizki.
"Pancasila tidak hanya diperuntukkan untuk masyarakat kelas bawah, tapi Pancasila harus ada internalisasi kedalam masyarakat. Seluruh masyarakat tanpa memandang status ekonominya," katanya lagi.
Demisioner Ketua Himas FKIP Unsyiah Periode 2012-2013 ini juga mengumpamakan, kasus konflik SARA yang marak terjadi saat ini di Indonesia, banyak disebabkan karena minimnya pemahaman Pancasila itu sendiri di masyarakat. Oleh karena itu dia mengatakan, diperlukannya penyadaran kembali di masyarakat akan pentingnya Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa dan negara.
"Jika melihat secara subjektif hari ini masih ada yang belum paham tentang Pancasila," ungkapnya.
"Hari ini masyarakat perlu dilakukan yang namanya proses penyadaran. Pancasila itu bukan hanya pajangan di ruang-ruang kantor maupun ruang kelas sebagai hiasan, tapi dihayati dan dipahami sebagai ideologi," ungkapnya lagi.
Terkait bagaimana pandangan masyarakat Aceh terhadap Pancasila, Rizki tidak bisa bisa menjelaskan secara pasti. "Namun melihat realita hari ini masyarakat Aceh sudah paham Pancasila dengan ikut menjaga kestabilan-kestabilan yang sekiranya mengganggu persatuan Indonesia," jelasnya.
Sehubungan dengan itu, sebagai seorang yang bergerak di dunia pendidikan, Rizki mengatakan, "Pemahaman terhadap Pancasila harus dibarengi dengan pendidikan. Sebab pendidikan menjadi ujung tombak dalam setiap negara," katanya.
"Bahkan, mempelajari sejarah akan mempermudah calon generasi yang akan datang menjadi manusia yang nasionalis. Mempelajari sejarah juga akan mempermudah memahami bagaimana proses lahirnya Pancasila," katanya lagi.
Rizki juga menambahkan, pendidikan yang minim juga mempengaruhi masyarakat tidak paham Pancasila.
"Mereka tau Pancasila, tapi sebatas tau," tutupnya.
Laporan: Yoga Tri Nugraha
Editor: Tim Redaksi
