Pengakuan pembuat film porno mirip Sukarno dengan perempuan pirang yang diminta CIA
![]() |
| Robert A. Maheu (1917-2008). (Bettmann-Archive) |
Suatu hari, hampir setahun setelah kunjungan Presiden
Sukarno ke Amerika Serikat (16 Mei–3 Juni 1956). Mantan agen FBI (Federal
Bureau of Investigation), Robert Aimé Maheu, menerima telepon dari Kolonel
Sheffield Edwards, Kepala Kantor Keamanan CIA. Dia terdengar agak gugup, dan
ingin tahu apakah dia bisa mampir ke rumahnya.
Saat itu, Maheu tinggal di Falls Church, Virginia. Mereka
bertemu di ruang hiburan. Area luas yang dirancang untuk pesta, dengan motif
bahari: sebuah bar yang terbuat dari separuh sekoci sungguhan, lampu yang
terbuat dari kayu apung, dan dinding yang dilengkapi fasilitas memasak untuk
makan malam. Yang paling penting, ruangan itu memberi mereka privasi penuh.
Sheffield memberikan sedikit latar belakang maksud
kedatangannya. Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Sukarno dengan Amerika
Serikat terus memburuk. Pada saat yang sama, aliansi yang dibentuknya dengan
Uni Soviet semakin matang. Sukarno awalnya hanya mentolerir kehadiran komunis
di Indonesia. Dan sekarang nampaknya berkembang menjadi dukungan yang
sungguh-sungguh. Semua perubahan itu seiring dengan perjalanan Sukarno ke Uni
Soviet.
Sheffield kemudian mengeluarkan sebuah amplop dan
menunjukkan kepada Maheu foto-foto ruang tamu dan kamar tidur di dalam Kremlin.
Tempat itu disediakan khusus untuk para pemimpin Uni Soviet dan para pengunjung
pejabat tinggi. Dia tidak mengatakan bagaimana mendapatkan foto-foto itu. Namun
yang jelas, CIA memiliki sumber-sumber intelijen yang tertanam di dalam
birokrasi Uni Soviet.
"Kemudian Sheff menceritakan kisah tentang Sukarno dan
seorang perempuan pirang. Saat mengunjungi Soviet, Sukarno diperlakukan sama
seperti di sini (Amerika Serikat, red.): disediakan perempuan. Tetapi Soviet
telah membuat kita menjadi lebih baik: salah satu perempuan yang mereka berikan
kepada Sukarno adalah seorang agen KGB," kata Robert Maheu dalam
otobiografinya yang ditulis bersama Richard Hack, Next to Hughes: One Man
Helped Build Howard Hughes' Empire, the Other Man Watched it Fall.
Rupert Cornwell menyebut Maheu menjadi kepercayaan Howard
Hughes selama satu dekade lebih (sejak 1954) sampai dia diberhentikan pada
1970. Hughes adalah seorang penerbang, produser film, taipan, dan salah satu
orang terkaya di Amerika Serikat.
"Maheu adalah Hughes: matanya, telinganya, suaranya
kepada dunia. Maheu mewakili miliarder yang tak terlihat di ruang rapat, pada
jamuan makan malam dengan orang berkuasa, dalam penampilan di depan komite
Kongres, dalam pertemuan dengan presiden. Tepat seperti itulah yang diinginkan
Hughes. Kedua pria itu berbicara di telepon, atau berkomunikasi dengan memo
tulisan tangan, hingga 20 kali sehari. Tapi mereka tidak pernah bertemu,"
tulis Rupert Cornwell dalam obituari Maheu di independent.co.uk.
Richard Goldstein dalam obituari Maheu di nytimes.com,
mencatat bahwa akar Maheu jauh dari dunia kekayaan dan kekuasaan yang akhirnya
dia masuki. Dia dilahirkan (30 Oktober 1917) dan dibesarkan di kota Waterville,
Maine, Amerika Serikat. Orangtuanya seorang Prancis-Kanada. Ayahnya memiliki
toko kelontong.
Maheu meraih gelar sarjana ekonomi dari Holy Cross College
pada 1940. Setahun kemudian, dia menikah dengan Yvette Dohou dan memiliki tiga
anak laki-laki dan satu anak perempuan yang telah meninggal. Istrinya meninggal
dunia lebih dulu pada 2003. Dia menyusul pada 4 Agustus 2008.
Sebagai agen FBI, Maheu melakukan kontraintelijen selama
Perang Dunia II dan menjebak beberapa agen Nazi yang tiba di New York City. Dia
meninggalkan FBI pada 1947, kemudian bekerja di Small Business Administration,
sebuah badan pemerintah Amerika Serikat yang memberikan dukungan kepada usaha
kecil.
Maheu kembali ke dunia intelijen pada 1954 dengan mendirikan
Robert A. Maheu and Associates, sebuah agen investigasi. Dia segera bekerja
pada CIA berkat persahabatannya dengan mantan agen FBI yang bekerja untuk CIA.
Pada Juli 1975, Maheu menyampaikan kepada komite Senat,
bahwa CIA pernah memintanya pada 1960 untuk bekeja sama dengan Johnny Roselli,
seorang tokoh mafia, untuk membunuh Fidel Castro dengan cara memasukkan racun
ke makanannya. CIA telah melakukan berbagai cara untuk menghabisi pemimpin Kuba
itu tapi selalu gagal. Castro panjang umur. Dia baru meninggal dunia pada 25
November 2016 di usia 90 tahun.
Selain membunuh Fidel Castro, Maheu juga mendapat pekerjaan
dari CIA untuk menjatuhkan Sukarno.
Sejarawan Geoffrey B. Robinson dalam Musim Menjagal: Sejarah
Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966, mencatat bahwa Amerika Serikat
merongrong Sukarno dengan berbagai bentuk. Sebagian besar bentuknya diambil
dari repertoar "trik-trik kotor" yang sudah sering digunakan di
tempat lain. Misalnya, sebuah komite Senat pada 1975 melaporkan bahwa mereka telah
"menerima sejumlah bukti keterlibatan CIA dalam sejumlah rencana untuk
membunuh Presiden Sukarno" dan agen yang sesuai telah diidentifikasi.
"CIA juga meracik rencana untuk memproduksi film porno
dan foto-foto yang seolah-olah menggambarkan Sukarno berada di tempat tidur
dengan pramugari Rusia," tulis Geoffrey. "Setelah selesai, film dan
foto-foto tersebut akan dikirim secara anonim ke saluran-saluran berita di
negara-negara lain. Distribusi tersebut juga disertai laporan yang memberikan
kesan bahwa Sukarno sedang dirayu atau diperas oleh Soviet."
Orang yang mengerjakan pembuatan film porno adalah Robert
Maheu. Dia menerima order itu dari Sheffield Edwards. Namun, menurut Geoffrey,
orang yang menelurkan ide itu adalah Samuel Halpern, pejabat CIA di Divisi
Timur Jauh dan Deputi Direktorat Perencanaan CIA.
Michael Drosnin dalam Citizen Hughes meyebut Maheu
mendapatkan $500 per bulan dari CIA untuk pekerjaan-pekerjaan kotor. Di
antaranya memproduksi film porno yang dibintangi mirip Sukarno.
Pembuatan Film
Sheffield menerangkan bahwa perempuan pirang itu menyamar
(cover) sebagai pramugari di pesawat Uni Soviet yang digunakan Sukarno saat
berada di Uni Soviet. Dia yakin Sukarno tidak menyadari kalau perempuan itu
agen KGB. Sukarno jatuh cinta pada gadis itu, dan gadis itu mengunjunginya
dalam sejumlah kesempatan di Indonesia.
"Sheff menunjukkan fotonya padaku. Mudah melihat daya
tariknya. Dia mempesona," kata Maheu.
Maheu masih mempertanyakan apakah perempuan itu benar-benar
menjadi penyebab meningkatnya kedekatan Sukarno dengan Uni Soviet. Namun, dia
tidak ragu, perempuan itu telah memberikan semacam pengaruh kepada Sukarno; dan
tidak dapat disangkal bahwa dia adalah apa yang dikenal di antara mata-mata
sebagai honey trap (perangkap madu), godaan seksual yang ditanam untuk
mengumpulkan intelijen.
Sheffield merasa bahwa dengan mengungkap penghubungnya
(perempuan pirang itu) akan mengubah hubungan antara Sukarno dan Uni Soviet,
atau mempermalukannya di hadapan rakyatnya sendiri dan melemahkan kekuasaannya.
"Saya setuju. Soviet benar-benar tidak bermain sesuai
aturan, dan kita juga tidak bisa," kata Maheu. "Para informan CIA
mengatakan bahwa Sukarno dan perempuan pirang itu telah menghabiskan setidaknya
satu malam bersama di dalam kamar tidur yang digambarkan dalam foto itu."
Sheffield ingin Maheu menggunakan kontaknya di Hollywood
untuk membuat film yang seolah-olah diambil oleh Uni Soviet sendiri, yaitu film
Sukarno dan perempuan pirang bercinta di kamar tidur.
"Film itu tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi film
porno," kata Maheu. "Yang diinginkan CIA hanyalah tayangan kamera
pengintai dari seorang pria yang kelihatan seperti Sukarno yang tertangkap di
ambang berbuat sesuatu dengan seorang perempuan yang ternyata agen
Soviet."
Sheffield tahu siapa kontak Maheu di Los Angeles, yaitu Bing
Crosby dan saudaranya Larry. Maheu telah bersahabat lama dengan Bing dan Larry.
Namun, dia lebih dekat dengan Larry sehingga sering makan siang atau makan
malam bersama.
Sekitar satu hari setelah berbicara dengan Sheffield, Maheu
terbang ke Los Angeles. Malam itu juga dia mengajak Larry makan malam dan
memberi tahu apa yang dia butuhkan. Larry benar-benar menyukainya.
Bing dan Larry menemukan sebuah studio kecil di Hollywood
dan memperbaikinya seperti gambar-gambar yang diperlihatkan Maheu kepada
mereka, yaitu kamar-kamar di dalam Kremlin. Larry mengajari Maheu cara
menggunakan kamera. "Untungnya bagi saya, ini bukan film untuk memenangkan
penghargaan, hanya rekaman pengintaian, dan tidak ada yang lebih buruk daripada
mengoperasikan kamera dalam film pengintai," kata Maheu.
Masalahnya adalah pemain. Mereka mencari beberapa bakat
setempat, yaitu aktor dan aktris yang dapat disewa dengan harga rendah. Tapi
tidak ada yang cocok, baik untuk Sukarno maupun si perempuan pirang.
Akhirnya, Maheu menghubungi Hal Marlowe, undersheriff Los
Angeles County dan asisten Sheriff, Pete Pitchess. Maheu memperlihatkan
foto-foto Sukarno dan perempuan pirang, dan Hal memberikan beberapa saran. Dia
memberikan nama seorang gadis yang sempurna untuk si perempuan pirang. Dia
bukan aktris tapi seorang informan. Pete menyuruhnya melakukan sesuatu untuk
Maheu dan memintanya tutup mulut. "Kurasa gadis malang itu tidak pernah
tahu apa yang sedang kami lakukan," kata Maheu.
Untuk pemeran Sukarno, Hal mengingatkan Maheu pada teman
sekamar lamanya, seorang lelaki berpenampilan Hispanik bernama Chuck Kayes,
yang bekerja untuk Maheu di Tucson. "Walaupun dia tidak begitu mirip
Sukarno, setelah penata rias Bing Crosby selesai meriasnya, Anda pasti sudah
bersumpah bahwa lelaki itu adalah presiden Indonesia," kata Maheu.
"Syuting dilakukan di tengah malam, dengan hanya saya,
Hal Marlowe, dan aktor di sana," lanjut Maheu. "Semuanya berlangsung
kurang dari lima menit."
Menurut Maheu, beberapa sumber menyebut film itu menunjukkan
para aktor sedang in flagrante delicto (tertangkap basah) melakukan hubungan
seksual. Sumber lainnya menyebut aktor itu memakai topeng Sukarno. "Itu
semua omong kosong. Mereka tidak benar-benar tidur bersama, dan tentu saja
tidak ada yang mendekati pornografi," kata Maheu.
Sumber yang menyebut aktor itu memakai topeng Sukarno adalah
mantan agen CIA, Joseph B. Smith dalam Potrait of a Cold Warrior. Dia
mengatakan bahwa "Los Angeles sebagai pemasok film-film porno cocok dengan
tujuan kami, kami pikir, karena mereka memiliki pemeran berkulit gelap ... yang
mungkin dapat dibuat agar terlihat seperti Sukarno dengan sedikit sentuhan.
Ketika tak menemukannya, CIA memutuskan membuat masker wajah Sukarno. Kami
berencana mengirimkannya ke Los Angeles dan meminta polisi setempat membayar
bintang film porno untuk memakainya selama beradegan dewasa."
Sumber lain bahkan menyebut judul film itu. "Nasib
akhir dari film yang berjudul Happy Days tak pernah dilaporkan," tulis
William Blum dalam Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World
War II.
Pada akhirnya, film porno itu tidak pernah dirilis. Hanya
beberapa gambar dari film itu yang bocor di Indonesia, Asia, dan Eropa. Kendati
demikian, Maheu merasa gambar-gambar itu mempengaruhi Sukarno, baik dalam
hubungannya dengan Uni Soviet maupun terhadap kekuasaannya.
"Posisi Sukarno di Indonesia, meskipun selalu kuat,
tidak pernah persis sama," kata Maheu. "Dan saya tidak berpikir
terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa, dengan caranya sendiri, film kecil
saya menandai awal dari akhir hidupnya."
Menurut Geoffrey, seorang pejabat CIA (Joseph B. Smith) yang
terlibat dalam propaganda film porno itu, berkomentar dalam memoarnya:
"Sesungguhnya kami telah berhasil melalui tema ini. Hasilnya muncul di
pers di seluruh dunia."
Namun, menurut Kenneth J. Conboy dan James Morrison dalam
Feet to the Fire: CIA Covert Operations in Indonesia, 1957-1958, film porno
yang dimaksudkan untuk mempermalukan Sukarno justru menjadi bumerang karena,
seperti diakui oleh Samuel Halpern, "di beberapa negara Dunia Ketiga, mereka
menyukai gagasan seorang pria berwarna berhubungan seks dengan perempuan kulit
putih."[] Sumber: Historia.id
Editor:
Tim Redaksi
