![]() |
| Muhammad Noval saat berada di salah satu situs sejarah di Malaysia. @Doc. Istimewa |
Kelantan, Malaysia - Suara mahasiswa di Bulan Suci Ramadhan 1848 H, kali ini datang dari Negeri Jiran Malaysia. Surat yang disampaikan kepada Cakra Himas FKIP Unsyiah dari saudara Muhammad Noval yang saat ini sedang menempuh pendidikan Master Arkeologi di Universiti Sains Malaysia.
Surat yang berisi tentang keadaannya menjalani puasa kali di negeri orang bersama dengan mahasiswa lainnya yang berasal dari daerah yang sama, yakni Aceh. Berikut isi suara mahasiswa yang disuratkan oleh Muhammad Noval.
Kami tinggal di Solok Pekaka, Sungai Dua, bersama kawan-kawan lainnya dari Aceh yang tergabung dalam komunitas Aceh Student Comoditi (ASC). Rumah kami berada di kawasan Taman Pekaka berseberangan dengan mesjid Ashaghir yang sangat ramai ketika Shalat lima waktu dan bulan Ramadhan. Letak rumah kami sangat strategis selain dekat dengan Tesco (pusat perbelanjaan) juga berdekatan dengan cafe Zubaidah salah satu jenis cafe muslim India yang menjadi tempat favorit kami diskusi menyambung bersilaturrahmi maupun menghilangkan penat setelah seharian pergi kuliah lapangan. Cafe ini juga menjadi tempat favorit mahasiswa lainnya dari berbagai negara, mungkin bagi yang pernah ke Pulau Pinang pasti pernah ngopi di cafe ini.
Surat yang berisi tentang keadaannya menjalani puasa kali di negeri orang bersama dengan mahasiswa lainnya yang berasal dari daerah yang sama, yakni Aceh. Berikut isi suara mahasiswa yang disuratkan oleh Muhammad Noval.
Kami tinggal di Solok Pekaka, Sungai Dua, bersama kawan-kawan lainnya dari Aceh yang tergabung dalam komunitas Aceh Student Comoditi (ASC). Rumah kami berada di kawasan Taman Pekaka berseberangan dengan mesjid Ashaghir yang sangat ramai ketika Shalat lima waktu dan bulan Ramadhan. Letak rumah kami sangat strategis selain dekat dengan Tesco (pusat perbelanjaan) juga berdekatan dengan cafe Zubaidah salah satu jenis cafe muslim India yang menjadi tempat favorit kami diskusi menyambung bersilaturrahmi maupun menghilangkan penat setelah seharian pergi kuliah lapangan. Cafe ini juga menjadi tempat favorit mahasiswa lainnya dari berbagai negara, mungkin bagi yang pernah ke Pulau Pinang pasti pernah ngopi di cafe ini.
Sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan Master Arkeologi Universiti Sains Malaysia, saya mengawali bulan suci Ramadhan tahun ini dengan pelajar lainnya dari berbagai negara seperti Sudan, Pakistan, india, Bangladesh, Thailand, dan Malaysia. Mahasiswa muslim dari berbagai daerah tersebut menjelang magrib sudah berkumpul di masjid-masjid untuk berbuka puasa dan menjalankan salat tarawih. Hampir semua mesjid yang berdekatan dengan kampus USM menyediakan menu berbuka puasa, jadi sangat mudah bagi kami untuk memilih mesjid mana yang akan kami kunjungi untuk berbuka puasa. Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah, kami melanjutkannya dengan tarawih bersama. Sama seperti di Aceh di mesjid-mesjid Pulau Pinang, Malaysia, shalat terawih adalah dua puluh rakaat. Jamaah disini kebanyakan mahasiswa Master dan Phd dari berbagai negara dan juga warga melayu itu sendiri. Setiap malam jamaah tarawih memenuhi ruangan Mesjid namun kebanyakan dari mereka hanya shalat delapan rakaat mungkin karena banyak aktivitas yang harus mereka jalani di bulan puasa.
Orang melayu biasanya gemar membeli jajanan (Takjil) untuk berbuka buasa. Mereka membeli Takjil di Bazar pasar malam yang terletak di di Alur setara sekitar 10 km dari rumah kami. Beragam jenis makanan di jual di sana. Saya paling sering membeli air Amra sebutan utuk Jus kedondong di negeri kita, air ini di jual dua ringgit untuk satu bungkus. Penganan lain adalah air es tembikai semangka dan honeydwe sebutan utuk jus melon. Selanjutnya saya juga sering membeli es bandung namanya es bandung, tapi jika bertanya kepada orang disana mereka gak tau asal-usul es tersebut apakah dari Bandung atau dari mana. Makanan lain yang tak kalah enak adalah sup tulang yang terdiri dari bumbu sup sederhana dan tulang sumsum sapi ketika di santap selagi hangat sangatlah enak. Selain itu salah satu kesukaan kami keluarga ASC adalah roti canai, nasi lemak dan nasi briyani ketiga nasi ini sangat mudah didapatkan pada bulan Ramadhan.
Salah satu perbedaan acara buka bersama di mesjid Malaysia dengan di Indonesia khususnya Aceh ialah jika di Aceh jarang ada perempuan yang berbuka puasa di Mesjid maka disini kebanyakan dari mereka memboyong semua keluarganya untuk berbuka puasa di Mesjid. Tiga puluh menit sebelum berbuka puasa diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Setiap berbuka puasa pasti di sertai dengan makanan berat dan ringan sekaligus untuk dimakan. Dan akan diberikan waktu selama dua puluh menit untuk menyantap hidangan tersebut. Setelah selesai salat tarawih dan witir akan di lanjutkan dengan minum teh hangat dan kue sisa berbuka puasa. Tidak ada istilah rebutan makanan dinegeri Jiran karena makanan disini lumayan banyak, jadi jangan khawatir kelaparan di bulan puasa kalau di Malaysia, silahkan datang saja ke Mesjid karena menyediakan makanan berbuka puasa yang sangat banyak dan sedap.
Laporan: Zaki Ummaya
Editor: Tim Redaksi
